Etika komunikasi dalam proses rekrutmen menjadi sorotan setelah seorang pelamar memutuskan tidak melanjutkan tahapan interview karena jawaban dari pihak HRD dinilai kurang pantas. Persoalannya bermula ketika pelamar menanyakan lokasi dan persyaratan dokumen yang perlu disiapkan.
Pertanyaan mengenai dokumen merupakan bagian wajar dari persiapan interview. Pelamar perlu mengetahui berkas yang dibutuhkan agar dapat mengikuti proses dengan lengkap, sementara cara HRD menjawab turut membentuk kesan awal kandidat terhadap perusahaan.

Dalam percakapan yang ditampilkan, pelamar lebih dulu menanyakan lokasi interview dan mengucapkan terima kasih. Ketika kembali bertanya tentang syarat dokumen, ia menerima jawaban, "Biasa kamu melamar gimana ya begitu lah." Respons tersebut kemudian menjadi alasan pelamar menghentikan proses rekrutmen.
Pelamar menyampaikan keputusan itu secara tertulis dengan tetap menggunakan bahasa yang sopan. Ia menilai komunikasi yang baik dan sikap saling menghargai merupakan bagian dari profesionalitas, terutama bagi orang yang menjalankan fungsi HRD.

Dalam pesannya, pelamar juga mengingatkan bahwa tidak semua pencari kerja memiliki pengalaman atau pemahaman yang sama tentang proses rekrutmen di setiap perusahaan. Karena itu, pertanyaan mengenai persyaratan dokumen seharusnya dipandang sebagai upaya mempersiapkan diri, bukan sebagai hal yang patut dijawab dengan nada meremehkan.
Sejumlah komentar yang terlihat pada materi tersebut menilai komunikasi HR perlu lebih jelas, komunikatif, dan fleksibel karena HR menjadi salah satu pintu awal kandidat mengenal perusahaan. Komentar lain memuji pilihan kata pelamar dan menyebutnya lebih cocok menjadi HRD.
Peristiwa ini menempatkan proses rekrutmen bukan hanya sebagai tahap penilaian kandidat, tetapi juga sebagai ruang ketika perusahaan dinilai oleh calon karyawan. Cara menjawab pertanyaan sederhana dapat memengaruhi gambaran kandidat tentang profesionalitas dan budaya komunikasi di tempat kerja.



