Anggapan bahwa kondisi sosial sedang baik-baik saja tidak selalu sejalan dengan pengalaman banyak keluarga dalam memenuhi kebutuhan dasar. Sejumlah kesaksian warganet menggambarkan orang yang harus memilih antara sekolah, makanan, beras, obat, pampers, dan biaya hidup harian.


Cerita-cerita itu tidak membentuk satu kasus tunggal. Isinya beragam, mulai dari anak yang mengajukan berhenti sekolah untuk membantu orang tua setelah bengkel ayahnya sepi pelanggan, hingga pekerja yang memegang pekerjaan di tiga tempat karena sangat membutuhkan uang. Kesamaan yang tampak adalah tekanan ekonomi yang membuat pilihan hidup menjadi semakin sempit.


Kebutuhan pangan muncul berulang kali. Seorang perempuan lanjut usia disebut mengumpulkan rontokan bunga kamboja selama dua hari untuk dijual Rp20 ribu, lalu menggunakan hasilnya untuk memperoleh sekitar satu kilogram beras. Cerita lain menyebut seorang ibu hanya membeli serundeng seharga Rp5.000 setelah menolak tawaran membeli bebek atau ayam.

Kesaksian lain menggambarkan seorang warga yang meminta bantuan membeli beras karena lapar. Penolongnya memilih membelikan lima bungkus nasi ayam dan memberikan uang Rp100 ribu. Ada pula pasangan yang menawarkan kaos agar bisa mendapat makanan; mereka menerima sisa beras, telur, dan mi yang tersedia di rumah seseorang.


Tekanan biaya kesehatan dan pengasuhan juga muncul. Seorang pengemudi ojek daring disebut meminta agar pesanannya tidak dibatalkan karena perlu menebus obat untuk bayinya yang baru lahir dan dirawat di NICU, sementara obat itu disebut tidak ditanggung BPJS. Kesaksian lain menceritakan penjualan galon serta pengumpulan kardus dan botol untuk membeli pampers dan setengah kilogram beras.

Cerita-cerita tersebut juga memperlihatkan bentuk bantuan spontan, seperti membelikan makanan bagi pengemudi ojek daring yang hanya meminta kepala ayam, atau memberikan roti dan air mineral kepada pemulung. Namun, kesaksian itu tidak menggantikan penjelasan mengenai akar persoalan. Salah satu unggahan secara langsung menyoroti sedikitnya lapangan kerja, rendahnya posisi tawar pekerja, dan upah yang kadang tidak cukup menutup biaya hidup.

Rangkaian pengalaman itu menjadi pengingat bahwa ukuran aman bagi satu orang tidak dapat dipakai untuk menyimpulkan keadaan semua orang. Di balik aktivitas ekonomi sehari-hari, masih ada warga yang menghitung uang untuk beras, obat, makanan, dan kebutuhan anak, sementara sebagian lainnya bertahan dengan pekerjaan apa pun yang tersedia.



