Langsung ke konten
zinesport. Mulai berkarya
← Kembali ke jurnal
Berita

Sejumlah Tenant RANS Carnival di Sleman Mundur, Tiga Musisi Utama Batalkan Penampilan Usai Ramai Boikot

Sejumlah tenant UMKM lokal dan tiga musisi, OM Wawes, Guyon Waton, serta Masdddho, dilaporkan mundur dari RANS Carnival di Sleman. Keputusan tersebut muncul di tengah seruan boikot yang ramai setelah Raffi Ahmad menjadi sorotan publik.

Sejumlah Tenant RANS Carnival di Sleman Mundur, Tiga Musisi Utama Batalkan Penampilan Usai Ramai Boikot
Instagram/folkshiff

Gelombang penolakan terhadap festival RANS Carnival di Yogyakarta menjadi perhatian publik setelah sejumlah tenant kuliner dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal dilaporkan membatalkan keikutsertaan mereka. Tidak hanya pelaku usaha, sejumlah musisi yang sebelumnya dijadwalkan tampil juga dikabarkan memilih mundur dari acara tersebut.

Festival RANS Carnival rencananya digelar di area parkir Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta. Namun, menjelang pelaksanaannya, acara tersebut justru diwarnai seruan boikot yang ramai diperbincangkan di media sosial. Situasi ini membuat sejumlah pihak yang sebelumnya berencana berpartisipasi mulai mengambil sikap dengan menarik diri dari kegiatan tersebut.

Berdasarkan informasi yang dibagikan akun Instagram @folkshiff, tiga musisi yang dikabarkan membatalkan penampilan mereka adalah OM Wawes, Guyon Waton, dan Masdddho. Ketiganya sebelumnya disebut masuk dalam daftar pengisi acara RANS Carnival. Mundurnya para musisi tersebut semakin menarik perhatian karena mereka memiliki basis pendengar yang cukup dikenal di kalangan masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya.

Selain pengisi acara, sejumlah tenant kuliner dan UMKM lokal juga disebut memilih membatalkan partisipasi. Keputusan tersebut menjadi sorotan karena kehadiran pelaku usaha lokal semula diharapkan dapat menjadi bagian dari kegiatan festival sekaligus membuka peluang promosi dan peningkatan penjualan.

Polemik yang memicu gelombang boikot ini berkaitan dengan sosok Raffi Ahmad. Kontroversi mencuat setelah Raffi menghadiri Deklarasi Sumpah Pemuda yang berlangsung di kawasan Bundaran HI, Jakarta. Dalam kegiatan tersebut, Raffi hadir sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni.

Kehadirannya kemudian menuai kritik dari sejumlah kalangan dan memunculkan perdebatan di media sosial. Perbincangan tersebut berkembang hingga muncul ajakan untuk memboikot kegiatan yang berkaitan dengan RANS, termasuk festival yang akan diselenggarakan di Sleman.

Di tengah situasi tersebut, keputusan sejumlah musisi untuk membatalkan penampilan turut menjadi perhatian. Berdasarkan keterangan yang disampaikan dalam unggahan, manajemen para musisi menyebut pertimbangan keamanan, upaya menjaga suasana tetap kondusif, serta menghormati aspirasi masyarakat sebagai alasan pembatalan.

Sikap para pelaku usaha dan musisi tersebut kemudian memunculkan beragam tanggapan. Sebagian warganet memberikan dukungan karena menilai setiap pihak memiliki hak untuk menentukan keterlibatan mereka dalam sebuah kegiatan. Sementara itu, ada pula yang menyoroti potensi dampak pembatalan terhadap penyelenggara, pekerja acara, dan pelaku usaha lain yang telah mempersiapkan kebutuhan festival.

Bagi UMKM lokal, keikutsertaan dalam festival biasanya menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk, menjangkau konsumen baru, sekaligus memperoleh tambahan pendapatan. Karena itu, keputusan untuk membatalkan partisipasi di tengah polemik tentu dapat membawa konsekuensi tersendiri, baik dari sisi peluang usaha maupun persiapan yang telah dilakukan sebelumnya.

Hingga informasi tersebut beredar, belum dijelaskan secara terperinci berapa jumlah tenant yang membatalkan keikutsertaan, apakah masih ada pengisi acara lain yang mengambil keputusan serupa, maupun bagaimana langkah penyelenggara menghadapi situasi tersebut.

Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana polemik yang berkembang di media sosial dapat berdampak pada penyelenggaraan sebuah acara hiburan dan ekonomi kreatif. Kontroversi yang awalnya berkaitan dengan figur publik pada akhirnya turut menyeret berbagai pihak, mulai dari musisi, pelaku UMKM, hingga penyelenggara festival. Kelanjutan RANS Carnival pun menjadi perhatian masyarakat, khususnya terkait bagaimana penyelenggara merespons gelombang penolakan yang muncul.

LANJUTKAN EKSPLORASI

Cerita lainnya.