London

Harga tanah di kawasan elit Jakarta kini dilaporkan menembus level yang setara dengan sejumlah area premium di London. Nilainya mencapai sekitar 9.000 poundsterling per meter persegi, atau hampir Rp200 juta per meter.
Fenomena ini menunjukkan bahwa harga properti di ibu kota telah bergerak mendekati standar kota-kota global. Namun, di sisi lain, kemampuan beli masyarakat masih tertinggal jauh. Upah Minimum Regional (UMR) Jakarta 2025 berada di kisaran Rp5,3 juta, jauh di bawah standar kota maju.
Sebagai perbandingan, UMR London jika dikonversi ke rupiah diperkirakan mencapai sekitar Rp40 juta per bulan. Kesenjangan ini menyoroti jurang besar antara biaya hidup dan daya beli pekerja, meski pertumbuhan nilai properti terus meningkat.
Kondisi tersebut kembali memicu diskusi soal aksesibilitas hunian di Jakarta serta tantangan kebijakan yang perlu diambil pemerintah untuk mengatasi ketimpangan tersebut.
Pada 30 Desember 1952, London menyaksikan sebuah peristiwa yang kemudian jadi legenda.
Albert Gunter, sopir bus nomor 78 menuju Shoreditch, sedang menjalankan rute biasanya melintasi Tower Bridge — sampai sesuatu yang tak terpikirkan terjadi: jembatan di bawahnya mulai terangkat. Ya, jembatan itu terbuka saat busnya masih di atasnya.
Dalam hitungan detik, Gunter harus mengambil keputusan cepat. Ia menginjak pedal gas sekuat-kuatnya, membuat bus tingkat itu melesat ke depan dan — dalam momen yang bikin jantung berhenti — melompat menyeberangi celah jembatan. Bus itu mendarat di sisi utara yang masih tertutup.
Ajaibnya, semua 20 penumpang selamat. Satu-satunya yang cedera parah justru Gunter sendiri, yang patah kaki akibat lompatan itu. Lebih luar biasa lagi, busnya tetap utuh.
Hari itu, Albert Gunter mengubah perjalanan rutin jadi kisah keberanian dan refleks luar biasa — dan namanya pun tercatat dalam sejarah London sebagai salah satu pengemudi paling nekat sekaligus heroik yang pernah ada.