Zinesport
Add Post Menu
Letusan yang merusak cuaca dunia: panen gagal, kelaparan, revolusi iklim - Tambora 1815

Letusan yang merusak cuaca dunia: panen gagal, kelaparan, revolusi iklim - Tambora 1815

Gunung itu bernama Tambora. Gunung berapi aktif dengan kaldera terbesar di Indonesia. Tingginya pernah mencapai sekitar 4.300 meter sebelum runtuh menjadi 2.722 meter setelah letusan.

10 April 1815. Di Sumbawa, gunung itu meledak seperti mesin geologi yang kehilangan kendali. Suaranya terdengar hingga ribuan kilometer. Dalam dua hari, lebih dari 150 kilometer kubik material terlempar ke langit—cukup untuk membuat matahari meredup dan udara berubah seperti tersaring debu halus.

Gunung itu bernama Tambora. Gunung berapi aktif dengan kaldera terbesar di Indonesia. Tingginya pernah mencapai sekitar 4.300 meter sebelum runtuh menjadi 2.722 meter setelah letusan. Struktur puncaknya hilang bersama ratusan kilometer kubik magma yang terbuang.

Abu sulfat naik ke stratosfer, memasuki lapisan angin global yang menyebarkan aerosol ke seluruh bumi. Partikel-partikel ini memantulkan cahaya matahari dan menurunkan suhu rata-rata hampir satu derajat Celsius—cukup untuk mengganggu pola musim dan waktu tanam di banyak wilayah.

Pada 1816, musim panas tidak berjalan normal. Di Amerika Utara, salju turun di bulan Juni. Di Eropa Barat, hujan es merusak ladang yang baru tumbuh. Gandum gagal matang. Ternak mati karena dingin berbulan-bulan. Surat kabar Boston menulis tentang “hari-hari tanpa kehangatan,” sementara kota-kota Eropa menghadapi kenaikan harga roti dan kerusuhan pangan.

Di Swiss, cuaca basah dan gelap membuat banyak orang menetap di dalam ruangan selama berminggu-minggu. Dalam kondisi itu, Mary Shelley menulis Frankenstein—sebuah karya yang lahir ketika dunia kehilangan kestabilan musimnya.

Di Nusantara, dampaknya lebih langsung. Sumbawa, Lombok, dan sebagian Bali mengalami kelaparan panjang. Sawah tertutup abu. Air sungai bercampur pasir vulkanik. Penyakit menyebar saat persediaan makanan habis. Catatan abad ke-19 menggambarkan desa yang hilang dan populasi yang menyusut drastis.

Tahun 1816 dicatat sebagai “Tahun Tanpa Musim Panas,” dipicu oleh satu letusan vulkanik di satu pulau kecil yang mengubah suhu, angin, dan musim di banyak wilayah dunia.

“Letusan yang merusak cuaca dunia—panen gagal, kelaparan, revolusi iklim.”

Di Eropa Barat, hujan es merusak ladang yang baru tumbuh. Gandum gagal matang. Ternak mati karena dingin berbulan-bulan.

 

Di Nusantara, dampaknya lebih langsung. Sumbawa, Lombok, dan sebagian Bali mengalami kelaparan panjang. Sawah tertutup abu.

 

Letusan itu merusak cuaca dunia—panen gagal, kelaparan, revolusi iklim.