Kaleng biskuit itu tidak mau terbuka pada percobaan pertama. Mira mengetuk tepi tutupnya dengan gagang sendok, sementara Nala duduk di kursi pinjaman dan memberi petunjuk seolah mereka sedang menjinakkan kotak harta karun. Di luar, hujan semalam menyisakan genangan di bagian gang yang turun. Raka baru pulang mengantar Nala ke sekolah dan belum mengganti kausnya yang lembap.
“Ada aturan,” kata Nala sebelum Mira berhasil membuka tutup. “Uang buat spidol jangan diambil semua. Setengahnya saja.”
“Setengah dari berapa?” tanya Raka.
“Itu yang harus kita hitung. Kalau aku tahu, namanya bukan harta karun.”
Mereka menggelar uang di atas tikar. Ada hasil uang saku yang disisihkan, kembalian belanja yang diberikan Mira, serta lembar dua puluh ribuan hadiah ulang tahun dari bibinya. Jumlahnya seratus delapan puluh ribu. Nala mendorong sembilan puluh ribu ke arah ayahnya. Raka mengembalikannya perlahan.
“Kita catat dulu. Uangnya tetap di sini sampai kita sepakat.”
Mira mengambil buku tulis yang semalam diisi Raka. Di bawah angka harga kursi, ia menuliskan tiga kolom: kebutuhan rumah, kebutuhan kerja, dan kursi Nala. Tabungan keluarga mereka sebanyak empat ratus enam puluh ribu rupiah. Setelah uang cadangan untuk beras, listrik, dan obat sehari-hari dipisahkan, hanya tiga ratus enam puluh ribu yang aman digunakan untuk kursi. Raka kecewa pada angka itu, tetapi Mira menggarisbawahinya dua kali.
“Kalau semua diambil, sekali motor bocor kita pinjam ke warung,” katanya. “Kita mau beli kursi, bukan mengganti satu masalah dengan tiga masalah.”
Raka ingin menyanggah bahwa motornya masih baik. Namun ia teringat bagaimana seminggu lalu ban belakang kempis ketika mengantar paket ke Godean. Ia menutup mulut, mengambil pulpen, lalu menulis angka tiga ratus enam puluh ribu sebagai awal.
Pekan berikutnya berjalan seperti perjalanan yang tak pernah kunjung selesai. Pagi Raka mengantar Nala ke sekolah, siang mengejar pesanan makan dari tempat-tempat yang mengeluarkan aroma gurih sampai ke helm, sore mengantar dokumen dan paket, malam memilih satu atau dua perjalanan lagi. Ia membawa bekal nasi dari Mira supaya tak terus membeli makan di luar. Setiap malam, ia memindahkan sebagian penghasilan bersih setelah bensin dan kebutuhan harian ke amplop bertuliskan 'Roda Nala'.
Di hari ketiga, hujan turun menjelang magrib. Di sekitar Tugu, lampu kendaraan pecah menjadi garis-garis panjang di aspal basah. Raka berteduh di bawah kanopi minimarket sambil menunggu pesanan masuk. Sarung tangan kirinya basah sampai pergelangan. Ponselnya bergetar, bukan karena pelanggan, tetapi karena pesan suara Nala.
“Pak, aku hari ini gambar gerbang perpustakaan. Bukan gerbangnya yang penting, lho. Jalannya. Aku bikin jalur yang nggak perlu dibantu orang.”
Raka mendengarkannya dua kali. Lalu ia menerima pesanan yang menuju Jalan Kaliurang, membayangkan perjalanan pulang yang panjang. Di lampu merah ia melihat bayangannya pada kaca mobil: pipi yang makin tirus, mata merah, dan dagu penuh titik janggut. Ia pernah berjanji kepada Mira bahwa lelah tidak akan ikut pulang sebagai kemarahan. Malam itu, ia belum yakin dapat menepatinya.
Mira juga menambah pekerjaan. Seorang pelanggan lama meminta beberapa tas kain diperbaiki talinya, lalu dua seragam anak dipendekkan. Mesin jahit di ruang depan berdetak sampai larut, menutupi suara acara radio. Kadang Raka terbangun karena suara gunting. Ia mengira Mira akan berhenti bekerja setelah ia menawarkan diri menangani pesanan, tetapi istrinya justru berkata, “Aku punya pekerjaan sendiri. Jangan semuanya kamu anggap harus lewat motormu.”
Kata-kata itu terdengar seperti teguran. Raka mengantuk dan mudah tersinggung. “Aku cuma mau bantu.”
“Aku juga.”
Mereka saling pandang di bawah lampu putih yang terlalu terang. Tak ada yang meminta maaf saat itu. Mira kembali memasang benang ke lubang jarum dengan gerakan pelan, dan Raka memilih mencuci gelas di dapur. Besok paginya, sebelum Mira bangun, ia memindahkan meja jahit sedikit lebih dekat ke jendela supaya cahaya masuk dari sisi kiri. Mira tidak berkomentar, tetapi meletakkan segelas teh hangat di dekat helmnya.
Pada Jumat sore, Nala mengikuti kegiatan menggambar di sekolah. Raka telah berjanji datang melihat pajangan murid. Satu pesanan antar makanan tersangkut karena alamat penerima keliru; ia baru sampai ketika papan hasil karya hampir dibereskan. Nala sudah di kursi pinjaman, menunggu bersama Bu Ratih. Ia tidak menangis, dan itu justru membuat Raka gugup.
“Maaf, Pak terlambat.”
“Aku tahu. Ada order.” Nala merapikan ujung gambarnya yang melengkung. “Bu Ratih tadi foto. Bisa lihat di rumah.”
“Bapak mau lihat yang aslinya.”
“Yang asli tadi dipajang, Pak.”
Bu Ratih berpura-pura mencari kotak lakban. Raka membawa gambar itu pulang dengan satu tangan, tangan lainnya mendorong kursi yang berat. Di sudut kertas, Nala menggambar seseorang berambut dikuncir sedang menuruni jalur landai. Tidak ada orang yang mendorongnya. Untuk pertama kalinya Raka bertanya dalam hati apakah segala jam tambahan yang ia kumpulkan sedang mengambil sesuatu yang lain dari anaknya.
Di rumah ia meminta Nala bercerita tentang pameran. Nala mula-mula menjawab pendek, lalu mulai menjelaskan mengapa ia mengubah warna gerbang menjadi oranye. Raka mendengarkan tanpa menyentuh ponsel. Ketika putrinya selesai, ia meminta izin menempel gambar itu dekat buku catatan tabungan.
Enam hari setelah angka pertama ditulis, amplop mereka berisi tambahan tiga ratus sembilan puluh ribu dari hasil kerja Raka, dan seratus enam puluh ribu dari hasil jahitan Mira. Total yang disisihkan menjadi sembilan ratus sepuluh ribu. Raka menatap angka itu sambil menghitung sisa yang masih jauh. Nala menghitung dengan cara berbeda.
“Berarti sudah lebih dari sepertiga, kan?” tanyanya.
“Belum. Sedikit lagi.”
“Oh.” Nala berpikir sebentar. “Kalau begitu kita jangan bikin Bapak jadi robot sampai sepertiganya.”
Raka mendongak. Ia ingin bilang dirinya tidak selemah itu, tetapi ada bekas garis merah dari tali helm yang belum hilang di pipinya. Besok Sabtu, pesanan biasanya ramai. Ia membayangkan uang tambahan yang bisa dikumpulkan kalau berangkat sejak subuh. Di samping buku, gambar jalur landai itu seperti sedang menunggu jawaban dari seseorang yang lebih suka terus bergerak daripada mengakui batasnya.
“Aku antar kamu ke perpustakaan besok pagi,” kata Raka. “Habis itu baru narik.”
Nala memandangnya lama, menimbang janji yang baru. “Jam berapa?”
“Jam sembilan.”
“Kalau ada order?”
“Bapak matikan aplikasinya.”
Ketika Nala tersenyum, Raka merasa lega sekaligus takut. Ada satu hal yang kini harus ia kumpulkan selain uang: kepercayaan yang tidak bisa dimasukkan ke dalam amplop.



