
10 April 1815. Di Sumbawa, gunung itu meledak seperti mesin geologi yang kehilangan kendali. Suaranya terdengar hingga ribuan kilometer. Dalam dua hari, lebih dari 150 kilometer kubik material terlempar ke langit—cukup untuk membuat matahari meredup dan udara berubah seperti tersaring debu halus.
Gunung itu bernama Tambora. Gunung berapi aktif dengan kaldera terbesar di Indonesia. Tingginya pernah mencapai sekitar 4.300 meter sebelum runtuh menjadi 2.722 meter setelah letusan. Struktur puncaknya hilang bersama ratusan kilometer kubik magma yang terbuang.
Abu sulfat naik ke stratosfer, memasuki lapisan angin global yang menyebarkan aerosol ke seluruh bumi. Partikel-partikel ini memantulkan cahaya matahari dan menurunkan suhu rata-rata hampir satu derajat Celsius—cukup untuk mengganggu pola musim dan waktu tanam di banyak wilayah.
Pada 1816, musim panas tidak berjalan normal. Di Amerika Utara, salju turun di bulan Juni. Di Eropa Barat, hujan es merusak ladang yang baru tumbuh. Gandum gagal matang. Ternak mati karena dingin berbulan-bulan. Surat kabar Boston menulis tentang “hari-hari tanpa kehangatan,” sementara kota-kota Eropa menghadapi kenaikan harga roti dan kerusuhan pangan.
Di Swiss, cuaca basah dan gelap membuat banyak orang menetap di dalam ruangan selama berminggu-minggu. Dalam kondisi itu, Mary Shelley menulis Frankenstein—sebuah karya yang lahir ketika dunia kehilangan kestabilan musimnya.
Di Nusantara, dampaknya lebih langsung. Sumbawa, Lombok, dan sebagian Bali mengalami kelaparan panjang. Sawah tertutup abu. Air sungai bercampur pasir vulkanik. Penyakit menyebar saat persediaan makanan habis. Catatan abad ke-19 menggambarkan desa yang hilang dan populasi yang menyusut drastis.
Tahun 1816 dicatat sebagai “Tahun Tanpa Musim Panas,” dipicu oleh satu letusan vulkanik di satu pulau kecil yang mengubah suhu, angin, dan musim di banyak wilayah dunia.
“Letusan yang merusak cuaca dunia—panen gagal, kelaparan, revolusi iklim.”




Tahukah kamu, pernah ada sebuah kapal yang dipromosikan sebagai “tidak bisa tenggelam”—namun justru tenggelam pada malam pertamanya menantang samudra. Tragedinya bukan sekadar kecelakaan laut, tetapi malam ketika teknologi, kepercayaan diri manusia, dan dinginnya Atlantik bertabrakan tanpa ampun.
Malam 14 April 1912, Atlantik Utara berada pada suhu yang menghukum. Titanic melaju, mesin stabil, cahaya lampu memanjang di permukaan laut yang tampak terlalu tenang. Di kejauhan, gunung es bergerak perlahan—tanpa suara, tanpa peringatan nyata. Ketika tabrakan itu terjadi, denting logamnya bahkan tak sebanding dengan apa yang terjadi di bawah permukaan: lambung kapal tersayat memanjang, kompartemen bocor satu per satu. Kapal itu kehilangan takdirnya.
Air es masuk seperti hembusan maut. Geladak yang tadinya hangat berubah menjadi kepanikan terbuka. Sekoci tak cukup. Lampu-lampu mulai padam, satu per satu, sementara ribuan penumpang berdiri di antara dingin yang menggigit dan malam yang mulai menutup mereka.
Informasi teknisnya tidak pernah dibantah: menurut British Board of Trade Inquiry (1912) dan kajian ulang dari American National Archives, Titanic tenggelam setelah kompartemen kedap air pertamanya terisi melebihi batas. Selain itu, penelitian Dr. Robert Ballard (WHOI) menunjukkan bahwa patahan kapal dipicu oleh beban struktural berlebih ketika haluan sudah terperosok ke dalam laut. Data tersebut menegaskan bahwa Titanic tenggelam bukan karena satu kesalahan—tetapi rangkaian kegagalan yang saling menguatkan.
Pada dini hari 15 April, kapal “tak bisa tenggelam” itu akhirnya menghilang di bawah permukaan Atlantik. Cahaya terakhirnya padam sekitar 02.20. Suhu air di sekelilingnya hanya sekitar –2°C, cukup untuk melumpuhkan tubuh manusia dalam hitungan menit. Jeritan tak bertahan lama; malam kembali sunyi.
Dan sejak itu, Titanic tidak pernah benar-benar tenggelam dari ingatan manusia—karena malam itu, teknologi modern kalah oleh dingin, kesombongan, dan keheningan laut.



Kota Pompeii.
Sebuah kota yang tenang, kala itu. Orang-orang menjalankan aktivitas sebagaimana biasanya. Tidak ada kegelisahan, tidak ada tanda bahaya.
Hingga perut bumi mulai berkelakar.

Gunung Vesuvius meledak, meluapkan apa yang ia simpan selama berabad-abad.
Ini bukan letusan gunung biasa.
Vesuvius adalah salah satu aktor erupsi paling mematikan dalam sejarah.
Dalam hitungan menit, ia ubah langit menjadi selimut gelap.
Batu apung turun tak henti, menghantam kota bak serbuan meriam dari langit.
Pompeii hanya bisa pasrah pada waktu.

Tak lama setelah hujan batu berhenti, gelombang panas datang.
Lebih cepat dari angin ribut. Lebih panas dari apa pun yang bisa dibayangkan manusia. Jalan-jalan disapu bersih. Rumah-rumah runtuh.
Warga tak punya kesempatan untuk berlari, apalagi bersembunyi.
Tubuh-tubuh membeku dalam posisi terakhir mereka.
Ada yang sedang berdoa.
Ada yang memeluk keluarga.
Ada yang tertidur, tidak sadar bahwa itu adalah napas terakhirnya.

Pompeii hilang dalam satu hari.
Dan selama hampir dua ribu tahun, kota itu terkunci di bawah abu— utuh, membisu, menunggu ditemukan.
Saat arkeolog membuka kembali kota ini, mereka seakan menemukan waktu yang berhenti.
Meja makan yang belum dibersihkan.
Lukisan dinding yang masih melekat.
Dan manusia-manusia terakhir Pompeii… masih berada di tempat mereka jatuh.
Erupsi Vesuvius tidak hanya menghancurkan sebuah kota.
Ia mengabadikan detik-detik terakhirnya.
Dengan cara yang tidak pernah diinginkan siapa pun.









Seorang seniman bernama Urs Fischer membuat instalasi tidak biasa di sebuah galeri seni di New York dengan menggali lubang senilai $250.000 dolar di dalam ruangan pameran.
Karya tersebut, berjudul *You*, dipamerkan pada tahun 2007 di Gavin Brown’s Enterprise.
Untuk menciptakan instalasi itu, Fischer menggunakan jackhammer selama sepuluh hari berturut-turut untuk menghancurkan lantai beton galeri.
Proses tersebut menghasilkan sebuah kawah berukuran sekitar 38 x 30 kaki dengan kedalaman delapan kaki.
Pihak galeri memasang tanda peringatan di pintu masuk yang menyebutkan bahwa instalasi tersebut berbahaya secara fisik dan memiliki risiko cedera serius bahkan kematian.

Harga tanah di kawasan elit Jakarta kini dilaporkan menembus level yang setara dengan sejumlah area premium di London. Nilainya mencapai sekitar 9.000 poundsterling per meter persegi, atau hampir Rp200 juta per meter.
Fenomena ini menunjukkan bahwa harga properti di ibu kota telah bergerak mendekati standar kota-kota global. Namun, di sisi lain, kemampuan beli masyarakat masih tertinggal jauh. Upah Minimum Regional (UMR) Jakarta 2025 berada di kisaran Rp5,3 juta, jauh di bawah standar kota maju.
Sebagai perbandingan, UMR London jika dikonversi ke rupiah diperkirakan mencapai sekitar Rp40 juta per bulan. Kesenjangan ini menyoroti jurang besar antara biaya hidup dan daya beli pekerja, meski pertumbuhan nilai properti terus meningkat.
Kondisi tersebut kembali memicu diskusi soal aksesibilitas hunian di Jakarta serta tantangan kebijakan yang perlu diambil pemerintah untuk mengatasi ketimpangan tersebut.
Erick Thohir, Ketua Umum PSSI sekaligus Menpora Indonesia, pernah mengucapkan pernyataan yang viral dan kontroversial terkait mimpi Indonesia lolos ke Piala Dunia. Dalam video yang beredar, ia mengatakan, "Yang salah siapa? Nggak usah saling menyalahkan. Salah kita semua. Siapa yang suruh mimpinya ke Piala Dunia." Namun, konteks pernyataan ini adalah ajakan introspeksi dan semangat untuk maju bersama dalam mengembangkan sepak bola Indonesia.
Erick menjelaskan bahwa dua tahun lalu standar sepak bola Indonesia belum sampai ke level mimpi lolos ke Piala Dunia. Ia menyatakan bahwa kini Indonesia punya mimpi besar dan standar berbeda, sehingga penting untuk beradaptasi dan terus bergerak maju alih-alih menyalahkan satu pihak. Jadi, pernyataan "Siapa suruh mimpinya ke Piala Dunia" bukan untuk menyalahkan masyarakat atau pendukung, tapi sebagai refleksi bahwa mimpi itu adalah milik semua yang harus diwujudkan bersama dengan kerja keras dan adaptasi terhadap perubahan.
Dengan demikian, Erick Thohir tidak menyuruh siapa pun bermimpi lolos Piala Dunia secara negatif, melainkan mengakui mimpi itu penting dan menyemangati untuk terus maju meskipun ada kegagalan saat ini.
Pada 30 Desember 1952, London menyaksikan sebuah peristiwa yang kemudian jadi legenda.
Albert Gunter, sopir bus nomor 78 menuju Shoreditch, sedang menjalankan rute biasanya melintasi Tower Bridge — sampai sesuatu yang tak terpikirkan terjadi: jembatan di bawahnya mulai terangkat. Ya, jembatan itu terbuka saat busnya masih di atasnya.
Dalam hitungan detik, Gunter harus mengambil keputusan cepat. Ia menginjak pedal gas sekuat-kuatnya, membuat bus tingkat itu melesat ke depan dan — dalam momen yang bikin jantung berhenti — melompat menyeberangi celah jembatan. Bus itu mendarat di sisi utara yang masih tertutup.
Ajaibnya, semua 20 penumpang selamat. Satu-satunya yang cedera parah justru Gunter sendiri, yang patah kaki akibat lompatan itu. Lebih luar biasa lagi, busnya tetap utuh.
Hari itu, Albert Gunter mengubah perjalanan rutin jadi kisah keberanian dan refleks luar biasa — dan namanya pun tercatat dalam sejarah London sebagai salah satu pengemudi paling nekat sekaligus heroik yang pernah ada.

Purbaya memperingkatkan agar pegawai Kementerian Keuangan tidak nongkrong di Starbucks. Jika ada pegawai yang masih melakukanya, Ia tidak segan memecat mereka.

"Bilang ke mereka nongkrong jangan di Starbucks..mereka masih gak peduli dianggapnya saya main main bilang hari Senin kalau ada yang begini lagi akan saya pecat, saya persulit. Masa nongkrong di Starbucks pakai seragam,"

Negara yang paling banyak makan pizza per kapita adalah Norwegia, dengan konsumsi sekitar 11,4 kg per orang per tahun.

Amerika Serikat menduduki posisi kedua dalam konsumsi pizza per orang, diikuti oleh Kanada, Australia, dan Italia.

Namanya Tengku Munirwan, Kepala Desa (Keuchik) Meunasah Rayeuk, Kecamatan Nisam, Aceh Utara. Ia kembangkan benih bantuan pemerintah menjadi jenis padi IF8.

IF8 bukan jenis padi biasa, varietas ini bisa menghasilkan padi 12 ton per hektar. Hasil tersebut 2 kali lipat padi biasa. Selain itu tahan hama dan masa panen yang lebih singkat.

Jenis padi yang ia sebarkan sempat menyejahterakan warganya, namun kini harus berurusan dengan hukum. Lantaran belum memiliki sertifikasi resmi. Ia pun harus berhadapan dengan jeruji besi.